Like Us

Facebook
Headlines News :
Home » , , , , , » Tabrakan Bahasa: Duel Bahasa Daerah Di Indonesia

Tabrakan Bahasa: Duel Bahasa Daerah Di Indonesia

Written By Ahmad Fadli on Selasa, 09 April 2013 | 10.45

Sama seperti di FTV dan sinetron-sinetron, kadang mesti tabrakan dulu supaya saling kenal. Bahasa juga harus tabrakan biar kita sebagai bangsa Indonesia jadi tau bahasa-bahasa daerah.
Banyak bahasa daerah yang kalo dibawa itu beda arti. Di antaranya yang kami bahas di bawah ini...

Jangan (Indonesia - Jawa)
Pasti pernah ada yang bukan orang Jawa, terus berkunjung ke rumah temennya yang di daerah Jawa Tengah atau Timur, terus disuguhin makan. Di antara makanan itu ada nasi, sayur asem, dan sayur sop. Kata ibu temanmu sambil mengarahkan jempol ke sayur asem dan sayur sop, “Ini jangan... Ini jangan...” Kemudian malam itu berakhir dengan makan nasi putih doang.
Jangan di bahasa Indonesia sama jangan di bahasa Jawa itu beda arti. Di Jawa, jangan itu artinya sayur.

Cokot (Sunda-Jawa)
Di suatu sore nan sejuk. Seorang Sunda dan temannya yang Jawa sedang jalan-jalan sore. Kemudian dua bersahabat itu menemui sesosok eek kambing di jalan berbatu itu. Sang Sunda teriak, “Jih, ta*i embek! Cokot, awaskeun!” Kemudian sang teman ngedeketin eek itu, dan menggigitnya.
Padahal maksud yang Sunda, “Ih, ada eek kambing! Ambil terus singkirin!” Dan teman yang Jawa malah nanggepnya, “Ih, ada eek kambing! Gigit terus singkirin!” Soalnya cokot kalo di bahasa Sunda artinya ambil, sedangkan di bahasa Jawa artinya gigit.
Tapi herannya, kenapa yang disuruh gigit mau aja ngegigit ya? Heran.

Gedang (Sunda-Jawa)
Ada seseorang dari Sunda lagi sakit parah ceritanya. Kata dokter, dia gak boleh makan pisang, kalo makan pisang dia akan bisulan di gigi. Makanya, dia minta tolong temennya yang dari Jawa untuk beli buah selain pisang. “Cig, pangmeulikeun gedang.” Dalam bahasa Sunda, artinya, “Tolong beliin pepaya.”
Sang teman datang dengan segepok pisang, dan yang Sunda teriak, “Maneh rek maehan urang?” Atau “Lo mau ngebunuh gue?” Lalu mereka marahan, dan akhirnya gak pernah kontek-kontekan lagi sampai masing-masing punya istri dan berkehidupan sendiri.
Oke, ini makin gak jelas. Yang pasti, dalam bahasa Jawa gedang itu artinya pisang.

Tiang (Indonesia-Bali)
Tiang dalam bahasa Bali itu artinya saya. Jadi kalau bilang ke cewek, jangan bilang, “Saya cinta kamu.” Nanti dia nyangkanya kamu lagi ngejodohin dia sama tiang.

Tempe-tempek (Indonesia-Jawa)
Penulisannya emang agak beda, tapi pelafalannya mirip. Pokoknya jangan bilang, “Aku mau tempe,” pas kamu berkunjung ke temen kamu yang orang Jawa. Bisa dicabein tuh mulut. Soalnya tempe(k) dalam bahasa Jawa artinya kemaluan cewek.

Kenyang (Indonesia-Bali)
Mirip-mirip sama di atas. Kalo kamu lagi ke Bali, jangan pernah bilang, “Abis makan kenyang nih!” Nanti disangkanya kamu freak atau maniak sex. Soalnya dalam bahasa Bali kenyang artinya ereksi.

Ayo (Indonesia-Papua)
Kalo nyanyi lagu “Maju Tak Gentar” di Papua agak aneh deh. Khususnya di waktu nyanyiin penggalan lirik, “Aaayoooo... maaaajuuuuuu.. maaajuuuuuuuu..”
Orang Papua lebih mengenal ayo sebagai kata yang berarti kemaluan cowok. Lucunya lirik itu disambung kata “maju..maju”.

Ternyata saking banyaknya bahasa daerah, bisa jadi beda arti ya kalo di daerah lain. Itulah mengapa kamu harus berhati-hati kalo ngomong, terutama sama orang yang beda latar belakang sama kamu, apalagi di daerah orang lain.

Apalagi ya bahasa yang tabrakan di Indonesia? Kalo yang di atas masih kurang, boleh lho nambahin di kolom comments.

Mungkin inilah yang menjadi dasar Ikrar Sumpah Pemuda Itu
Sumber
Share this post :
 
Support : Fadli | Alfin | Expresz
Copyright © 2014. Ahmad Fadli - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by FAE
Didukung Oleh Blogger